Saya, Reportografer

Saya adalah Fajar Rahman dan saat ini saya bekerja sebagai reporter di media online. Cukup berat memang. karena reporter media online dituntut waktu deadline; SECEPATNYA. Bukan saja kecepatan, akan tetapi ketepatan berita juga harus dipikirkan matang. Belum lagi kaidah jurnalisme dan kode etik jurnalistik. Namun, jujur saja, pengalaman menjadi blogger punya blog banyak membantu.

Reportase hanyalah fungsi kecil dari tugas seorang blogger. Blogger itu hebat lho. Sebuah media online membutuhkan setidaknya reporter, fotografer, editor, redaktur, programmer dan lain-lain untuk mem-posting sebuah berita. Blogger mengatasinya sendirian. Pasang thems, edit plugin, sidebar, pasang foto, sampai tulis postingan, semuanya dilakukan sendiri!

Makanya ketika kantor memposisikan saya sebagai seorang reporter dan bertugas di Surabaya dengan bekal kamera DSLR seadanya(Canon 550 D ), saya menyanggupinya. Sebab, saya yakin amat terlalu sangat mampu. “Its easy. Yakin dulu, susah mudah urusan belakangan. Jangan malu, tanya dan googling. Itu saja kuncinya,” batin saya dulu.

Memang tak pernah ada task khusus atau guidance dari kantor terkait reportografer ala saya ini. Boss lebih percaya pada saya yang selalu disanjungnya sebagai faster learner dan suka improve. (sombong dikit boleh kan :P). So, saya sendiri yang inisiatif dengan mempertimbangkan kebutuhan media saya.

Oke sedikit gambaran kerjaan yang saya sebut Reportografer itu. Untuk pas pertandingan, task saya aslinya tergantung itu match ditayangin langsung di TV atau enggak. Kalau tayang, saya motret untuk kebutuhan belasan foto di gallery atau berita foto, nulis komentar preskon dan kejadian di sekitar lapangan yang punya nilai berita. Kalau tidak live TV, saya moto, nulis review pertandingan tersebut, dan berita preskon. Bisa saja dua review kalau terhitung big match. Berita babak pertama dan gabungan keseluruhan.

Tayang atau tidak, sebelum half time, setidaknya saya harus ngirim dua atau tiga foto ke kantor. Itulah kenapa saya selalu standby netbook yang online dengan dan ngirim dari sisi lapangan. Malah sering terjadi, tak sampai lima menit setelah gol, foto selebrasi tadi sudah muncul di twitpict akun kantor. Hebat, kan saya? 😛

Kerjaan saya seperti ini sempat bikin salah satu teman fotografer dari Jakarta heran. “Lu bisa ya kayak gini. Editorial lu utak-atik peluang tim guwe udah baca juga, hasil foto lu juga lumayan. Bagi perusahaan, lu adalah orang-orang yang dicari. Bagi guwe ama fotografer lain, cukup kantor elu aja yang giniin fotografer. Ogah kita, kerjaan double argo tetap,” sanjung teman yang biasa dipanggil Rommy itu saat kita sama-sama liputan di Pra Pial Asia U-22 pertengahan 2012 lalu.

Namun, ada benarnya juga apa yang dikatakan salah satu reporter Antara dari Pekanbaru. “Kamu nggak akan maksimal. Di sisi tulisan, kamu pasti kelewatan momen lain karena fokusmu ke kamera. Di sisi foto juga begitu, saat kamu sambil nulis review di lapangan, mungkin ada momen yang seharusnya bagus juga malah kamu lewatin,” kata teman yang enggan namanya dituliskan di sini itu.

Di blog baru saya ini, reportografi akan tetap ada. Tapi saya pisah. Untuk tulisan dari pandangan saya silakan buka blog.mcxoem.my.id. Untuk hasil jepretan, Anda bisa lihat di photo.mcxoem.my.id.

Terimakasih atas kunjungan dan kesediaan Anda membaca postingan ini. Salam 😀